Alfian Ihsan
Sosial Politik

Gagasan Pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani

Jamaluddin Al-Afghani, bergelar Sayyid karena beliau adalah putra dari Shafdar Al-Husaini yang merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mungkin sebagian dari kita mengenal Jamaluudin Al-Afghani adalah salah satu pelopor gerakan salafi modern, namun kita akan melihat perbedaan pemikiran antara Al-Afghani dengan kelompok Islam salafi yang sering kita temui di Indonesia.

Di Indonesia, kita lebih sering menemui kelompok pengajian salaf atau melabeli diri mereka sebagai gerakan Salafi yang tujuan utamanya adalah untuk mengajak umat pada ajaran Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Juga menyingkirkan umat pada aktifitas keagamaan yang menurut mereka mengandung syirik, bid’ah, dan takhayul.

Satu hal yang ditekankan oleh Al-Afghani adalah umat Islam mengalami kemunduran akibat dari pemahaman keagamaan yang taklid dan tertutupnya pintu ijtihad. Hal ini membuat umat hanya mengikuti pemahaman yang sudah dibentuk oleh seorang ulama dan mengikutinya tanpa menyampaikan kritisisme dan pertanyaan mengenai pemahaman tersebut.

Pemikiran Al-Afghani ini cenderung bertolak belakang dengan apa yang kita temui pada kelompok salaf di Indonesia. Mereka malah mengkritik upaya ijtihad yang dilakukan oleh kelompok Islam yang lain.

Misalnya mengkritik upaya ijtihad Nahdlatul Ulama dalam mengupayakan sebuah pemahaman Islam yang moderat ala Indonesia dengan mencetuskan manhaj Islam Nusantara. Atau upaya ijtihad kelompok muda Jaringan Islam Liberal untuk mewujudkan pemahaman Islam yang toleran terhadap umat beragama lain.

Mengutip tulisan Prof. Hariz Anshari dalam buku Satu Islam Banyak Jalan, Jamaluddin Al-Afghani adalah seorang rasionalis. Pemikiran dan aktifitas politiknya cenderung menyerukan pada pembaharuan Islam dengan jalan rasionalitas yang tetap terikat dengan ajaran agama.

Begitu pula dalam hal emansipasi wanita, Al-Afghani memandang bahwa kemampuan intelektual wanita dan laki-laki sama saja. Oleh karena itu wanita mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki.

Wanita juga boleh bekerja di luar rumah jika memang diperlukan, tetapi harus didasari oleh niat dan tujuan yang mulia.Bahkan Al-Afghani tidak melarang wanita membuka tutup kepala apabila ada di luar rumah, asal tidak sampai menimbulkan hal yang negatif.

Tentu kita akan mendengar pendapat berbeda dari kelompok Salaf di Indonesia. Kita bisa mengamati isi ceramah dari beberapa Ustadz yang mengaku Salafi, biasanya menampilkan diri dengan baju kurta Pakistan yang sampai ke lutut, celana Isbal, jidat hitam dan berjenggot lebat.

Ustadz ini menyampaikan bahwa Istri itu harus di rumah dan tidak boleh bekerja, harus menutup seluruh tubuh dengan pakaian hitam dan cadar (niqab). Parahnya, mengatakan bahwa setinggi apapun pendidikan istri, takdir mereka adalah di rumah, mengurus dapur, mengasuh anak, dan melayani suami.

Gagasan Politik

Harun Nasution mengatakan bahwa ide politik Al-Afghani dilandasi atas keyakinan bahwa ajaran Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman, dan semua keadaan.

Konsekuensinya adalah keharusan umat Islam untuk melakukan ijtihad, bahkan dalam hal gerakan politik. Ide politik ini muncul atas keprihatinan beliau melihat negara – negara Islam di timur tengah waktu itu mengalami penjajahan oleh Inggris.

Masih menurut Harun Nasution, Al-Afghani mengatakan bahwa corak pemerintahan otokrasi harus dirubah dengan corak pemerintahan demokrasi. Kepala negara harus mengadakan Syura dengan pemimpin masyarakat yang banyak mempunyai pengalaman.

Islam, dalam pendapat Al-Afghani, menghendai pemerintahan republik yang di dalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat dan kewajiban kepala negara tunduk kepada undang-undang dasar.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa pihak yang harusnya diajak bermusyawarah oleh seorang kepala negara adalah pemimpin masyarakat misalnya tokoh agama, pimpinan organisasi, atau pimpinan suku. Bukan sekedar orang yang terpilih secara elektoral untuk menjadi wakil rakyat seperti yang sekarang terjadi di negara kita ini.

Jika hari ini banyak kelompok ngaji salaf yang mengartikan Pan-Islamisme dari Jamaluddin Al-Afghani adalah mendirikan kekhilafahan Islam, maka sebenarnya bukan itu yang dimaksud oleh Al-Afghani.

Al-Afghani mencetuskan Pan-Islamisme sebagai solidaritas umat yang berdasarkan akidah Islam dengan tujuan membangun kesetiakawanan dan persatuan umat Islam.

Persatuan ini, menurut Al-Afghani, bersifat menyeluruh untuk semua umat Islam. Tidak terbatas untuk kaum Sunni saja tapi juga Syi’ah, juga mencakup persatuan lintas madzhab.

Jika Al-Afghani menganjurkan demokrasi, menghindari kekuasaan absolut, namun menghendaki persatuan, maka Organisasi Kerjasama Islam saat ini adalah relevan dengan gagasan beliau. Tidak ada keinginan meleburkan negara peserta OKI menjadi satu kesatuan, namun lebih perbincangan mengenai kerjasama ekonomi, pendidikan dan politik.

Begitu pula yang dimaksud oleh Al-Afghani, persatuan bukan berarti meleburkan negara – negara yang sudah ada, namun tentang membangun komunikasi yang baik antar negara Islam. Persatuan ini untuk melawan kolonialisme, imperialisme, dominasi barat, dan despotisme para penguasa.

Despotisme atau kekuatan absolut dari penguasa Islam bahkan objek perlawanan Al-Afghani. Beliau sering diusir dari beberapa negara seperti Mesir, India, dan Persia. Tiga negara ini saat itu dipimpin oleh seorang Sultan namun dalam kendali Inggris.

Perlawanan dan kritik Al-Afghani terhadap imperialisme Inggris malah membuatnya diusir oleh penguasa saat itu yang lebih suka mengikuti perintah Inggris daripada mewujudkan kemerdekaan negara dan rakyat dari penjajahan.

Puncak gerakan politik Al-Afghani adalah ketika beliau berada di Paris dengan membentuk gerakan Al-Urwah Al-Wusqa yang bertujuan untuk memperkuat rasa persaudaraan umat Islam. Anggotanya adalah kaum muslimin yang berasal dari India, Mesir, Rusia, Afrika Utara, dan negara Timur Tengah lain.

Gerakannya berupa penerbitan majalah dengan nama yang sama. Majalah berisi tentang  gagasan mengenai persaudaraan Islam, perlawanan penjajahan, dan membawa umat Islam pada kemajuan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.