Prof Rifda
Kesehatan

Mengenali Makanan Jajanan yang Sehat

Bagaimana cara mengenali makanan jajanan yang sehat?  Makanan jajanan sering kita jumpai di lingkungan sekitar rumah, tempat rekreasi ataupun tempat-tempat umum. Zaman sekarang ini, berbagai jenis makanan jajanan tersedia hampir 24 jam dalam sehari.

Berbagai variasi jenis jajanan yang ada dengan bentuk dan warna yang menarik akan menggugah selera kita  untuk mencicipinya. Namun anda harus cermat dalam memilih makanan jajanan yang aman dan tidak mengganggu kesehatan kita setelah dikonsumsi.

Jajanan yang sehat dan aman adalah jajanan yang menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) 4P yang memiliki izin edar oleh BPOM. Selain itu, dosis atau takaran bahan 4P yang harus ditambahkan harus sesuai dengan standar baku yang telah ditetapkan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

4P merupakan singkatan dari pemanis, pewarna, pengawet dan perasa. 4P merupakan bahan tambahan pangan yang sering dipergunakan untuk penambahan pada makanan jajanan.  Perkembangan makanan jajanan di pasaran berkembang sangat pesat, namun demikian perkembangan tersebut diikuti oleh penyalahgunaan 4P oleh industri pangan.

Masih munculnya kejadian keracunan dan penyakit akibat mengkonsumsi makanan, menunjukkan bahwa tingkat keamanan pangan masih perlu belum mendapat perhatian penuh, terutama di tingkat industri kecil.  Oleh karena itu, kita sebagai konsumen, harus pandai memilih makanan yang baik untuk tubuh kita.

1. Pemanis

Pemanis yang banyak dikonsumsi adalah gula pasir atau gula kelapa.  Adapula pemanis buatan yang beredar di masyarakat,  namun tidak semua boleh digunakan dalam produk pangan karena tidak  aman atau beresiko memberikan efek samping  yang membahayakan kesehatan.

Pemerintah (BPOM) telah mengeluarkan SK Nomor HK.00.05.5.1.4547 tahun 2004 tentang persyaratan penggunaan bahan tambahan pangan pemanis buatan dalam produk pangan dengan batas maksimal konsumsi sebagai berikut,  diantaranya aspartam sebesar 50 mg/kg BB (berat badan), Siklamat  sebesar 11 mg/kg BB, dan Sakarin sebesar 5 mg/kg BB.  Misalnya adik-adik memiliki berat badan 40 kg, berarti konsumsi pemanis buatan sakarin maksimal 200 mg per hari atau 0,2 gram per hari.

2. Pewarna

Pewarna digunakan pada saat proses pembuatan makanan jajanan anak sekolah, karena menarik minat pembeli dengan pillihan warna yang menyenangkan, menutupi perubahan warna karena pengolahan, dan menambah variasi warna pada makanan.

Namun demikian, pewarna  yang dipakai untuk pengolahan pangan, harus pewarna yang food grade (grade untuk pangan).  Penyalahgunaan pewarna tekstil untuk olahan pangan, banyak sekali dilakukan oleh pelaku industri pangan, mengapa hal ini masih terjadi kemungkinan karena ketidaktahuan pelaku industri, harga pewarna tekstil lebih murah dan mudah diperoleh di pasaran.

Oleh karena itu, harus teliti sebelum membeli makanan dengan melihat komposisi makanan dan mengamati warnanya. Warna yang mencolok dan memiliki rasa pahit, biasanya menggunakan  pewarna yang berbahaya. Pewarna berbahaya terbukti mengganggu kesehatan dengan adanya efek racun, beresiko merusak organ tubuh, dan memicu kanker.

Contoh pewarna yang berbahaya yaitu Metanil Yellow dan Rhodamin B. Metanil Yellow merupakan pewarna berbahaya berwarna kuning, merupakan pewarna tekstil yang sering  disalahgunakan sebagai pewarna produk pangan. Contohnya pada produk manisan buah mangga dan kedondong, kue basah,kerupuk, macam-macam jeli dan agar-agar.

Rhodamine B merupakan pewarna berbahaya dengan warna merah,  contoh: produk sirup, limun, es mambo, bakpao, cendol, es kelapa, kue basah, makanan kipang, kerupuk, minyak goreng (agar lebih jernih), saos dan sambal kemasan.

3. Pengawet

Bahan pengawet yaitu senyawa yang mampu mengawetkan makanan, sehingga dapat mempertahankan kesegaran, citarasa selama penyimpanan dan distribusi produk pangan.

Pengawet  yang ditambahkan ke dalam makanan jajanan tidak boleh menurunkan kualitas gizi, warna, citarasa dan bau serta tidak menyembunyikan keadaan pangan yg berkualitas rendah.

Akhir-akhir ini banyak sekali penyalahgunaan bahan berbahaya dimanfaatkan pada produk pangan. Misalnya formalin dan boraks. Formalin dan boraks bukan bahan tambahan pangan.

Formalin, adalah larutan formaldehid dengan tambahan metanol 10 – 15 %  dalam industri digunakan untuk produksi pupuk, bahan fotografi (pengeras lapisan kertas), pencegah korosi, perekat kayu lapis, bahan pembersih dan insektisida, juga untuk pembunuh kuman dan pengawet sediaan serta untuk pembalsaman atau pengawetan mayat.

Boraks adalah asam borat atau boraks merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diijinkan digunakan dalam bahan pangan.

Bentuknya Kristal putih tidak berbau dalam air, boraks berubah menjadi asam borat. Boraks digunakan utk mematri logam, pembuatan gelas dan enamel serta pengawet kayu dan pembasmi kecoa, namun biasanya disalah gunakan untuk pembuatan pangan.

Formalin  disalahgunakan utntukpembuatan tahu, mie, kerupuk, bakso dan ikan asin.  Ada beberapa penelitian menyebutkan bahwa buah segar, ayam segar dan ikan segar yang dicelup formalin.  Demikian juga boraks digunakan pada produk  mie, bakso, kerupuk.

4. Perasa/Penyedap rasa

Banyak produk pangan, perlu penambahan perasa atau penyedap rasa untuk memperkuat aroma dan cita rasa produk pangan.   zat penyedap rasa yang penggunaannya meluas dalam berbagai jenis masakan, yaitu penyedap rasa monosodium glutamat (MSG).

Zat ini tidak berasa, tetapi jika sudah ditambahkan pada makanan maka akan menghasilkan rasa yang sedap. Penggunaan  MSG tidak dinyatakan dosis maksimalnya, namun pada kondisi berlebih  beberapa peneliti  melaporkan dapat menyebabkan “Chinese restaurant syndrome” yaitu suatu gangguan kesehatan di mana kepala terasa pusing dan berdenyut.

Berikut tips bagi konsumen  dalam berbelanja memilih produk pangan yang dijual di pasaran

  1. Amati label produk (ingredient/komposisi, petunjuk aturan pakai, informasi efek samping, kadaluwarsa, kode registrasi),
  2. Perhatikan kemasannya (apakah bersih, atau tertutup dari debu, ada tidaknya kerusakan pada kemasan, atau penyok pada kaleng),
  3. Warna makanan yg terlalu mencolok atau terlalu cerah, seperti  sirup, kerupuk, saos  yg warnanya terlalu cerah   à mengandung pewarna tekstil,
  4. Jangan terperdaya oleh harga murah, seperti es teh dengan harga murah ternyata menggunakan pemanis yang tidak baik untuk kesehatan,
  5. Tekstur sangat kenyal, misalnya mie, bakso, tahu, kemungkinan mengandung formalin atau boraks,
  6. Cicipin dulu rasanya. Kalau rasa pahit, dicurigai produk pangan tersebut  mengandung BTP yg dilarang,
  7. Aroma / Bau menyimpang dari aroma normal, kemungkinan mengandung formalin

 

Prof. Dr. Rifda Naufalin, SP., Msi

Dosen Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published.