Elly Tugiyati
Sosial Politik

Kontribus NU Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab kerap menampakkan budaya-budaya tidak baik dan dikenal dengan sebutan jahiliyah. Pertumbuhan kejahilan ini tidak diisi dengan keterisian akhlak.

Dalam buku Akhlak Tasawuf karya Abuddin Nata dijelaskan, bangsa Arab di zaman jahiliyah tidak memiliki ahli filsafat yang mengajak pada aliran paham tertentu. Hingga pada akhirnya, Islam menyapa bangsa Arab.

Masa Jahiliyah bangsa Arab perlahan pudar dan membuat perbedaan sangat jelas ketika Islam masuk.

Khoiruman (2019) dalam artikel Aspek Ibadah, Latihan Spritual Dan Ajaran Moral (Studi Pemikiran Harun Nasution tentang Pokok-Pokok Ajaran Islam) menyatakan bahwa agama Islam membawa ajaran-ajaran yang secara garis besar terdiri dari akidah, syariah dan akhlak.

Akidah mencakup pokok-pokok keimanan, yang intisarinya adalah tauhid. Syariah adalah sistem norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta.

Syariah dibedakan menjadi dua, yaitu yang mengatur tatacara ibadah murni (ibadah mahdhah) dan tatacara hubungan dengan sesama manusia dan alam (mu’amalah). Akhlak adalah ajaran tentang baik-buruk berkaitan dengan sikap jiwa, perangai, karakter, dan perilaku manusia kepada Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Syahirul Alim (2018) dalam Islam Nusantara dan Akulturasi Agama-Budaya  menyebutkan bahwa Islam sebagai agama setelah dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan agama baru dibanding agama-agama kuno lainnya, seperti Nasrani atau Yahudi.

Islam lahir dari sebuah kondisi kebodohan (jahiliyah) bangsa Arab, dan hampir-hampir waktu itu bangsa Arab tidak mempunyai peradaban sama sekali.  Agama dan tradisi atau budaya kemudian menjadi pola hidup yang “bernilai” di tengah masyarakat karena mampu merekatkan kehidupan sosial secara lebih harmonis.

Mengapa NU? pertanyaan tersebut sering kita dengar, akan tetapi banyak yang bingung dalam menjawab, mengapa? Karena banyak diantara kita yang dari lahir memang sudah berada di lingkungan keluarga atau masyarakat yang sudah amaliyahnya NU yaitu beribadah namun tetap melestarikan adat dan budaya sepanjang tidak melanggar perintah Allah SWT.

Hal ini dapat dipahami karena ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah.

Pada prinsipnya, Islam datang ke suatu daerah (termasuk ke jazirah Arabia sebagai tempat kelahirannya) tidak untuk menghapuskan semua produk budaya termasuk tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat. Penyerapan adat ke dalam hukum (Islam) dilakukan juga terhadap adat/tradisi Arab sebelum Islam.

Muzadi (2007) menyatakan bahwa jauh sebelum NU lahir yaitu 31 Januari 1926, NU sudah ada dan berwujud dalam bentuk jama’ah(community) yang terikat oleh aktivitas keagamaan yang mempunyai karakteristik tertentu.

Sikap kemasyarakatan NU telah dirumuskan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo, No. 02/MNU-27/1984 tentang Khitthah NU. Ada empat sikap yang harus dimiliki oleh masyarakat NU yaitu:

  1. Sikap Tawassuth dan I’tidal
    Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim).
  2. Sikap Tasamuh
    Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
  3. Sikap Tawazun
    Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
  4. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
    Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Dalam tataran praktisnya dasar-dasar keagamaan dan sikap kemasyarakatan itu membentuk perilaku warga Nahdlatul Ulama antara lain :

  1. Menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam.
  2. Mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi.
  3. Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dan berkhidmah serta berjuang.
  4. Menjunjung tinggi persaudaraan (al-ukhuwwah), persatuan (al-ittihad), serta kasih mengasihi.
  5. Meluhurkan kemuliaan moral (al-akhlaq al-karimah), dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berfikir, bersikap, dan bertindak.
  6. Menjunjung tinggi kesetiaan (loyalitas) kepada bangsa dan negara.
  7. Menjunjung tinggi nilai amal, kerja dan prestasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.
  8. Menjunjung tinggi ilmu-ilmu pengetahuan serta ahli-ahlinya.
  9. Selalu siap untuk menyesuaikan diri dengan setiap perubahan yang membawa kemaslahatan bagi manusia.
  10. Menjunjung tinggi kepeloporan dalam usaha mendorong, memacu, dan mempercepat perkembangan masyarakatnya.
  11. Menjunjung tinggi kebersamaan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Menurut Farih (2016) Nahdlatul Ulama (NU) sejak kelahirannya merupakan wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda dan Jepang.

Sekaligus aktif melakukan dakwah-dakwahnya untuk senantiasa menjaga kesatuan negara Republik Indonesia dalam wadah NKRI. Motif nasionalisme timbul karena NU lahir dengan niatan kuat untuk menyatukan para ulama dan tokoh-tokoh agama dalam melawan penjajahan.

Semangat nasionalisme itu pun terlihat juga dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri yakni “Kebangkitan Para Ulama”. Di tengah perubahan dan tantangan zaman yang makin kompleks, NU juga selalu berada di garda terdepan dalam membela kepentingan bangsa dan negara.

Bahkan di tengah kebhinekaan masyarakat  Indonesia, hanya NU yang berani melangkah di garda paling depan menunjukkan cara bertoleransi dengan sesama.

Presiden Joko Widodo pada hari lahir NU ke-95 juga menyampaikan bahwa kita semua melihat bukti bahwa NU berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, menggerakkan semangat nasionalisme dan semangat toleransi serta dalam melawan segala bentuk radikalisme dan terorisme.

Kontribusi NU akan selalu dibutuhkan selama negara ini masih ada untuk memperkuat kehidupan bangsa Indonesia dan memajukan peradaban dunia.

NU sudah memiliki pengalaman dan sejarah panjang dalam menyatukan ulama, memerdekakan bangsa Indonesia, memberikan pelayanan terhadap masyarakat Indonesi, melalui bidang pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan keagamaan pada masyarakat di pedesaan.

NU mempunyai konsep pemahaman islam sebagai agama fitrah dan rahmat bagi semesta alam tentunya tidak hanya mengurus hubungan masyarakat sebagai agama fitrah dan rahmat bagi semesta, juga mengurusi hubungan masyarakat muslim (ukhuwah islamiyah) tetapi juga hubungan antara manusia.

Di saat saudara kita tertimpa bencana, masa pandemi Covid-19 peranan NU dalam menyelamatkan masyarakat yang berdampak besar pada sektor ekonomi. Selain itu peran NU dari jaman sebelum merdeka sampai dengan sekarang konsisten mengedukasi masyarakat.

Peran NU sebagai agen gerakan pemberdayaan masyarakat terus melakukan strategi dalam meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan kata lain bahwa NU sangat berperan tidak hanya dalam hal agama saja tetapi juga  dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P.

Dosen Fakultas Peternakan Unsoed

Leave a Reply

Your email address will not be published.