Nurul Anwar Ph.D.
Ekonomi

Membangun Pondasi Pasar Nusantara (Bagian 2)

Oleh : Nurul Anwar, Ph.D. Ketua PC ISNU Banyumas.

Yaa Allah, Dzat yang jika sudah berkehendak maka tidak ada satu kekuatanpun yang mampu mencegahnya, berilah kami jalan yang lurus dan maslahah, berkah.

 Pengantar

Pasar nusantara yang sedang kami perjuangkan ini adalah sebuah mimpi atau obsesi yang merupakan paradigma baru untuk membangun sebuah sistem baru bagi umat khususnya Nahdliyin dalam membangun perekonomian dan kehidupan masyarakat dengan memasukkan moral agama dalam kosep dan kebijakan.

Ketidak adilan di bidang ekonomi khususnya yang terjadi di dunia selama ini tidak lain dan tidak bukan merupakan akibat dari manusia itu sendiri melalui sistem (kapitalis dan sosialis) dan pola yang dianut (QS 2:30 dan QS 30:41-42).

Hal ini diakui oleh  filusuf Belgia Parijs (1998) dalam bukunya  Real Freedom for All What (if anything) can justify capitalism? (Oxford Political Theory) menyatakan bahwa: “capitalist societies are full of unacceptable inequalities. Freedom is of paramount important. These two convictions are widely shared across the world, yet they seem to be completely contradictory with each other.”

Di samping itu dalam konsep pasar nusantara juga ada misi untuk meletakkan Al-Qur’an sebagai referensi utama dan tertinggi dalam membangun peradaban, memposisikan umat sebagai subyek, bukan sebagai obyek dalam membangun perekonomian, meningkatkan kesejahteraan umat.

Jika pada bagian satu secara singkat sudah diuraikan terkait dengan kecerdasan dan kecermatan menggunakan harta, maka pada bagian dua ini akan diuraikan mengenai kecerdasan dan kecermatan mencari dan mengembangkan harta.

Sebetulnya dua kecerdasan ini harus dimiliki oleh setiap muslim yang percaya bahwa kehidupan di akhirat jauh lebih baik dari pada kehidupan di dunia.

Perolehan harta atau rezeki

Al-Qur’an melalui beberapa ayat telah memberikan beberapa pedoman antara lain; jangan memakan harta secara bathil (QS 4:29); jangan memakan riba (QS 3:130); jangan melakukan penipuan dan penggelapan (QS 4:29); jangan melakukan praktek suap menyuap (QS 2:188); jangan mencuri (QS 5:38); dan jangan berjudi (QS 2:219).

Secara bathil menurut beberapa ulama, terutama M. Quraish Shihab diartikan sebagai tidak seimbang antara memperoleh dan menggunakan harta. Memperoleh dan mengembangkan harta tidak boleh terjadi kecuali dengan interaksi antara manusia dengan manusia yang lain, melalui pertukaran dan bantu membantu.

Jadi harta seolah oleh harta berada di tengah-tengah kedua pihak yang saling berinteraksi. Keuntungan atau kerugian dari interaksi ini tidak boleh ditarik terlalu besar, yang menyebabkan satu pihak mengalami kerugian, sedangkan pihak lainnya memperoleh keuntungan.

Dalam melakukan transaksi kedua pihak atau lebih harus sama-sama memperoleh manfaat atau keuntungan, sehingga kita semua akan maju dan berkembang bersama. Perolehan harta secara bathil melanggar hak salah satu atau lebih pihak dalam bertransaksi, tidak dibenarkan oleh hokum, dan tidak seseuai dengan tuntunan ilahi.

Jika terjadi utang-piutang antara pihak yang melalukan transaksi, haruslah berlandaskan rasa suka sama suka dan jangan ada riba di dalamnya. Ini secara tegas sekali dinyatakan dalam QS 2:278 di mana Allah menyuruh kita untuk meninggalkan riba.

Riba akan memperlebar jarak antara si kaya dan si miskin. Melalui tindakan riba, pihak yang kaya akan makin kaya, sebaliknya orang yang miskin yang terpaksa meminjam uang dengan riba akan makin tertekan.

Hal yang sering terjadi dalam bertransaksi adalah adanya penipuan dan penggelapan, terutama yang dilakukan oleh orang yang belum mengetahui atau orang yang tidak takut akan adzab Allah, yang menganggap bahwa harta adalah segalanya.

Penipuan dan penggelapan jelas dilakukan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperdulikan ada pihak lain yang dirugikan. Penipuan bisa ngat bervariasi bentuknya, dan sudah sangat banyak contohnya di Indonesia baik bermodus investasi, kerjasama, pemalsuan, dan sebagainya.

Penggelapan dan penimbunan akan merusak jalannya perekonomian suatu wilayah, Penggelapan atau penimbunan dilakukan untuk membuat barang kebutuhan tidak tersedia dengan cukup di pasaran. Sesuai hukum permintaan, jika barang yang dibutuhkan lebih sedikit dari jumlah yang diminta, maka dengan asumsi faktor-faktor lain yang mempengaruhi, harga akan naik.

Keadaan seperti inilah yang sangat ditunggu oleh pihak yang melakukan penggelapan, dengan harapan setelah harga naik, barulah mengeluarkan dan menjual barang yang digelapkan tadi dengan harga yang tinggi, dengan keuntungan yang berlipat ganda, sementara masyarakat yang menjadi korban.

Ini tidak adil, tidak imbang antara orang yang bertransaksi dan sangat merugikan sebagian besar umat. Inilah yang menurut sebagian ulama termasuk kategori bathil dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri. (QS 16:89).

Allah juga mengatur orang dalam melakukan transaksi agar tidak melakukan pencurian. Tindakan  bisa dilakukan melalui pengambilan harta milik orang lain secara paksa, atau secara sembunyi-sembunyi. Ini jelas akan merugikan salah satu pihak yang menjadi korban.

Sebetulnya seandainya saja kita terutama orang percaya dan menggunakan Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan, tidak hanya dalam ibadah mahdlah, maka masyarakat akan menjalani kehidupan dengan tenang, tentram, penuh rahmat, dan rezeki akan mengalir sesuai kehendak Allah.

Kita juga dilarang untuk mencari rezeki melalui perjudian (QS 2:219). Melalui perjudian seseorang bisa mendapatkan harta dengan sangat mudah dalam waktu singkat tanpa melakukan usaha produktif, tetapi ada pihak lain yang juga mengalami kerugian seketika.

Karena sebenarnya dalam transaksi perjudian perputaran uang atau harta berjalan tanpa ada proses produksi yang meningkatkan nilai tambah sebagai modal dasar dalam peningkatan kehidupan secara nyata. Termasuk larangan yang terkandung dalam ayat ini adalah melakukan transaksi minuman keras, apalagi mengkonsumsinya.

Aktivitas yang diharapkan dalam pencarian harta adalah aktivitas yang memunculkan nilai tambah (value added) dalam perekonomian, yakni kegiatan yang bisa meningkatkan nilai barang maupun jasa dalam suatu transaksi melalui perubahan bentuk, perubahan waktu, perubahan tempat, maupun perubahan waktu.

Ada tiga syarat untuk kegiatan ini, yakni; mitra bersedia membayar (willingness to pay) terhadap aktivitas yang dilakukan; aktivitas tersebut dilakukan dengan mengubah bentuk dan atau fungsi dari barang atau jasa; dan aktivitas tersbut dilakukan secara benar sehingga tidak memerlukan pengerjaan ulang.

Menginfakkan rezeki berupa harta

Kita diperintahkan oleh Allah untuk mencaari rezeki atau harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup ((QS 4:5), tetapi disuruh mencari kelebihan (fadlullah) yang bisa digunakan untuk bisa melakukan ibadah secara sempurna, bisa mengulurkan tangan memberi bantuan kepada pihak lain yang membutuhkan.

Secara garis besar kita mencermati bagaimana pola dalam menggunakan harta dari dua hal: pertama, harus bijak (pertengahan) tidak boros, tetapi tidak menyiksa diri (QS 25:67); kedua, menginfakkan sebagian kepada pihak lain yang membutuhkan terutama kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan sebagainya (QS 2:177).

Menurut M Quraish Shihab setelah menyebutkan sisi keimanan yang hakikatnya tidak kelihatan, penjelasan ayat ini dilanjutkan dengan contoh kebajikan sempurna yang dari sisi lahiriyah bisa kelihatan.

Salah satunya adalah berupa kesediaan mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain.; ketiga, berinfak tanpa diikuti dengan celaan ataupun hinaan (QS 2:262). Dalam ayat ini diinformasikan bahwa metode terbaik dalam membelanjakan harta di jalan Allah adalah dengan berinfak.

Karakteristik manusia terhadap harta

Jika diperhatikan dari beberapa ayat Al-Qur’an yang terkait dengan karakteristik manusia terhadap harta, paling tidak bisa dikenali ada empat karakter, yakni; golongan manusia yang sangat cinta terhadap harta (QS 89:20).

Golongan manusia yang suka mengumpulkan dan menghitung-hitungnya (QS 104:1-3), golongan manusia yang bangga terhadap harta (QS 57:20), dan golongan manusia yang kikir terhadap harta (QS 3:180).

Karakter golongan orang yang sangat cinta terhadap harta sebagian besar ulama menafsirkan bahwa harta harus banyak, dan mencintainya di luar batas kewajaran, dan ini yang menurut kacamata agama merupakan golongan yang tidak berguna karena orientasinya hanya kehidupan dunia.

Karakter orang yang suka megumpulkan dan menghitungnya, termasuk orang yang suka mengumpat dan mencela, dan mereka menyangka bahwa dengan hartanya yang banyak seakan-akan menjamin hidup kekal di dunia tanpa memperhatikan ada perhitungan Allah di akhirat.

Karakter orang yang berbangga dengan hartanya menggunakan hartanya tanpa tujuan yang jelas dan hanya ingin menghabiskan saja dengan mengabaikan manfaatnya. Sebetulnya bangga terhadap harta adaalah manusawi, namun yang harus diperhatikan adalah jangan sampai melewati batas.

Karakter orang yang kikir terhadap harta dikecam oleh Al Qur’an, mereka menyangka bahwa harta yang dikumpulkan adalah hasil usahanya semata, padahal hakikatnya adalah anugerah Allah. Seandainya mereka mengetahui, hakikatnya harta kepunyaan orang adalah harta sedekah yang diinfakkan di jalan Allah.

Pesan moral

Dari uraian pada bagian satu dan dua ini ada beberapa pesan moral yang dapat dipetik (QS 5:4) antara lain:

a). Memakan harta yang halal dan tayyib (QS 2:168), dan bertawakal kepada Allah (QS 5:88), serta bersyukur  (QS 34:13). Makan bisa diartikan lebih luas yaitu segala akitivitas, karena makan disamping merupakan kebutuhan pokok manusia, juga karena makanan mendukung aktivitas manusia.

Halal di sini dimaksudkan dalam tiga hal penting yaitu halal zatnya, halal barangnya, halal memperolehnya, dan halal cara pengolahannya.

Sedangkan tayyib dalam hal ini adalah sehat dalam arti memiliki zat bergizi dan seimbang, proporsional dalam arti sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, dan aman dalam arti menyebabkan rasa aman jiwa dan kesehatan.

b). Makan tidak berlebih-lebihan (QS 7:31). Pada hakekatnya setiap orang yang hidup bermewah-mewahan adalah orang yang melampuai batas. Menurut KBBI mewah berarti serba banyak, serba indah, serba berlebih (biasanya tentang barang dan cara hidup yang menyenangkan.

Misalnya, hidup secara berlebih, makanan, pakaian, dan barang serba banyak, mahal, dan indah, serta berlimpah. Akibat dari makan berlebihan menurut Al Qur’an bisa menyebabkan beberapa hal, seperti penyakit, kerugian materi, termasuk melanggar larangan Allah.

c). Makan dan jangan mengikuti langkah-langkah setan (QS 6:142), karena setan adalah musuh utama kita. Perlu diingat bahwa makan dan aktivitas seringkali digunakan setan untuk memperdaya.

Islam sangat mengutamakan kesederhanaan baik dalam mengkonsumsi harta walau miliknya sendiri, bahkan dalam beribadah sekalipun. Tetapi sebaliknya juga tidak dibenarkan, yaitu terlalu menahan diri dari menikmati sesuatu pemberian anugerah Allah padahal kita mampu memperolehnya, apalagi jika sampai sikap menahan diri itu mengharamkan sesuatu yang halal menurut syariat.

 

Daftar bacaan

Ar- Rifa’I M Nasib, Kemudahan Dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibu Katsir, Gema Insani, Jakarta, 1999

Morley, Michael F. 1979, “The Value Added Statement in Britain”, The Accounting Reviews. July. halaman 618-629

Parijs Phillipe Van, 1998, Real Freedom for All What (if anything) can justify capitalism? (Oxford Political Theory), Clarendon Press, United Kingdom.

Shihab, M Quraish, Wawasan al-Qur’an, Mizan cet ke 2, Bandung, 1996

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *