Cak Latif
Kesehatan

Pandemi, Mari Kembali Ke Lokalisasi

Wabah bukanlah hal yang baru di dalam kehidupan manusia, wabah pertama tercatat pada tahun 541-542 yakni penyakit pes, wabah ini menyerang kekaisaran Bizantium dan kota-kota pelabuh Mediterania. Wabah ini menewaskan 30-15 juta jiwa atau sekitar 10% populasi Konstantinopel.

Masih dengan penyakit yang sama, wabah berikutnya terjadi pada tahun 1346 – 1353 wabah yang awal mulanya terjadi di daratan eropa ini dikenal sebagai the black death, wabah ini menewaskan 25 juta jiwa nyawa manusia atau lebih dari sepertiga populasi eropa. Selama sekitar seabad terakhir, banyak bermunculan wabah penyakit jenis baru.

Pada tahun 1918-1920 muncul wabah flu spanyol yang diyakini berasal dari patogen yang berada di unggas, flu tersebut menyerang daerah amerika utara dan spanyol, 500 juta orang menjadi korban dari penyakit ini dan sekitar seperlimanya meninggal dunia. Pada tahun 1956 – 1958 muncul flu asia yang menewaskan 2 juta jiwa manusia, flu ini awalnya berasal dari cina dan menyebar ke daerah singapura, hongkong dan amerika serikat.1

Tahun 1976 muncul penyakit Ebola Pertama kali di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Wabah tersebut pada tahun 2014 menginfeksi warga Afrika Barat. Terjadi sekitar tahun 2014 – 2016 dan menyebabkan 11.325 kematian dari 28.600 orang yang terinfeksi. Kasus pertama ditemukan di sebuah desa kecil di Guinea pada tahun 2014 dan menyebar ke beberapa negara tetangga di Afrika Barat, diantaranya adalah Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Pada awal abad 21 tepatnya tahun 2002, wabah SARS menyebar ke 26 negara dan menginfeksi 8.096 orang serta menewaskan 774 orang. Tidak berselang lama muncul wabah H1N1 yang berasal dari patogen di babi pada tahun 2009, virus ini menyebar ke seluruh dunia serta menginfeksi 1.632.258 korban dan 284.500 orang meninggal dunia. Tiga tahun berselang muncul wabah MERS yang berasal dari patogen di kelelawar, menjangkiti 2.494 orang dan menewaskan 858 orang, peyakit MERS ini diduga berasal dari Negara timur tengah dan menyebar keseluruh dunia.1, 2

Wabah terbaru yang menyerang dunia adalah Covid-19 (Corona Virus Disease-19), wabah ini sudah berlangsung satu tahun lebih dan sampai tulisan ini di tulis, wabah ini belum berakhir dan telah menginfeksi 128,421,931 orang, 2,807,094 meninggal dunia.3

Morse dan kawan-kawan (2012), mengungkapkan bahwa dalam sejumlah penelitian yang  dilakukan oleh beberapa tokoh di bidang ekokesehatan yang beberapa didanai oleh Colgate-Palmolive dan Johnson & Johnson, perusahaan-perusahaan yang mendorong deforestasi untuk tujuan agrobisnis, menghasilkan peta global berdasarkan wabah yang muncul sejak tahun 1940.

Mereka memperkirakan tentang lokasi kemunculan pathogen baru pada masa mendatang, Semakin merah warna di peta, semakin besar kemungkinan patogen baru muncul di sana, dalam gambaran peta yang mereka buat menunjukkan warna merah di wilayah Tiongkok, India, Indonesia, dan sebagian Amerika latin dan Afrika.4

Fenomena-fenomena  di atas menunjukkan bahwa dunia sudah beberapa kali terkena wabah, dan dari wabah ke wabah berikutnya jaraknya semakin dekat, dan cakupan wabahnya semakin luas, hingga dekade ini setiap kali wabah pasti menjalar keseluruh dunia. Hal ini dapat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama teknologi transportasi, dengan cepatnya perkembangan teknologi transportasi mobilitas manusia juga semakin mudah dan semakin tinggi.

Manusia semakin mudah berpindah tempat dari Negara satu ke negara lainnya, dari lokasi satu ke lokasi lainnya, dan dari tempat satu ke tempat lainnya. Hal tersebutlah yang mempermudah penularan patogen dari tempat satu ke tempat lainnya dan dari Negara satu ke Negara lainnya.

Dengan majunya teknologi terciptalah globalisasi, terciptalah masyarakat global. Batas antara global dan lokal semakin luntur karena semua masuk dalam arena global.

Bahkan, lebih dari itu, Gidden (1991) menyatakan, ini untuk kali pertama dalam sejarah manusia, ’’diri’’ dan ’’masyarakat’’ saling berhubungan di dalam satu lingkungan global5 . Dengan adanya globalisasi, teman teman tidak hanya bisa mengakses produk dari negara lain, tetapi juga bisa tertular oleh penyakit menular dari negara lain.

Merebaknya wabah sehingga berkembang menjadi pandemi berawal mula dari globalisasi, oleh karena itu kita harus mengurangi aktivitas global kita dan beralih ke aktivitas lokal. Bahkan untuk mengatasi wabah yang sudah masuk ke dalam suatu Negara, kebijakan pemerintah harus di mulai dari yang paling bawah, di mulai dari instansi pemerintahan yang paling kecil yakni desa.

Pada awal-awal pandemi kita tahu bahwa, banyak desa-desa yang berzona hijau, sangat tidak adil bila pemerintah meyamakan kebijakannya dengan desa berzona merah. Sebuah desa berzona hijau tanda bahwa desa tersebut belum terpapat Covid-19, desa tersebut seharusnya boleh melakukan aktivitas biasa dan diperbolehkan beraktivitas dengan desa yang lainnya yang juga berzona hijau tentunya, namun tidak di perbolehkan melewati desa berzona kuning ataupun merah apalagi berkunjung ke desa tersebut.

Begitu terus sampai kecamatan, kabupaten, dan sampai ke tataran pemerintahan yang paling tinggi yakni Negara. negara yang masih berzona merah, warga masyarakatnya tidak diperbolehkan beraktivitas dengan masyarakat negara lain yang zonanya lebih aman zona hijau ataupun kuning. Begitupula dengan negara yang zona nya sudah hijau, warga masyarakatnya tidak diperkenankan beraktivitas dengan masyarakat negara yang zonanya masih kuning ataupun merah, hanya diperkenankan beraktivitas dengan masyarakat negara yang zonanya sudah sama-sama hijau.

Hal tersebut harus diterapkan secara jelas dan di mulai dari tataran paling bawah yakni desa.

Sumber Pustaka

1http://www.b2p2vrp.litbang.kemkes.go.id/berita/baca/358/Penyakit-Yang-Pernah-Menjadi-Wabah-Di-Dunia#

2https://bukuprogresif.com/2020/03/27/pagebluk-covid-19-sebagai-bencana-kapitalisme-permasalahan-dan-perjuangan-ke-depan/

3https://news.google.com/covid19/map?hl=ms&mid=%2Fm%2F02j71

4Wallace, Rob. 2020. Matinya Epidemiolog Ekspansi Modal dan Asal-usul – Covid-19. Yogyakarta : Penerbit Independent.

5https://www.jawapos.com/opini/sudut-pandang/17/12/2017/melestarikan-budaya-memandirikan-warga/

Lathief Chamdillah, anak desa kesayangan tuhan yang sedang menempuh studi pendidikan dokter di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dilahirkan di Desa Siser Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.