Prof Sunhaji
Pendidikan

Pendidikan Islam dan Nasionalisme, Tinjauan Tujuan Pendidikan Nasional

Secara etimologis, Islam berasal dari akar  kata aslama yakni berserah diri, pasrah atau mengabdikan diri. Dari akar kata ini, maka memeluk Islam berarti harus memasrahkan diri kepada aturan aturan Islam.

Manusia yang memasrahkan diri pada Tuhan akan selamat (kata salima) ,kemudian akar kata salima  selanjutnya menuju sallama yakni menyelamatkan orang lain.

Jadi Islam sebagai agama berorientasi pada menjaga dan menyelamatkan diri serta orang lain serta mendamaikan manusia pada umumnya. Konsep mendamaikan manusia inilah sebagai akar munculnya rasa persaudaraan diantara sesama umat manusia, tidak memandang ras, suku bangsa, semuanya dibingkai sebagai rohmatan lil’alamin.

Dari sinilah Islam memandang kedamaian dan kerukunan antar umat manusia tidak memandang ras, suku, budaya dalam bingkai nasionalisme atau  kebangsaan. Nasionalisme adalah sebuah paham yang direalisasikan dalam sebuah negara yang mendambakan kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa (nation), walaupun mereka terdiri dari masyarakat yang majemuk.

Nasionalisme mempunyai pengertian totalitas yang tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama. Diantara mereka tercipta hubungan sosial yang harmonis dan sepadan atas dasar kekeluargaan.

Kepentingan semua kelompok diinstutionalisasikan dalam berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan. Nasionalisme juga mempunyai makna pemikiran untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan Negara dengan menghargai dan menjiwai baik itu budaya, adat istiadat maupun sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia yang telah merdeka ini.

Dalam konteks ini, kata kunci dalam nasionalisme adalah supreme loyality terhadap kelompok bangsa. Kesetiaan ini muncul karena adanya kesadaran akan identitas kolektif yang berbeda dengan yang lain.

Pada kebanyakan kasus, hal itu terjadi karena kesamaan keturunan, bahasa atau kebudayaan, akan tetapi  ini semua bukanlah unsur yang subtansial serba yang paling penting dalam nasionalisme adalah adanya “kemauan untuk bersatu”.

Nasionalisme dapat dilihat dari perspektif antropologis sosiologis dan perspektif politik, secara antropologis sosiologis nasionalisme diartikan sebagai suatu masyarakat yang merupakan suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dan masing-masing anggota persekutuan tersebut merasa satu kesatuan ras, bahasa, agama, sejarah dan adat istiadat.

Sedangkan dalam perspektif politik, nasionalisme adalah masyarakat dalam suatu daerah yang sama, dan mereka tunduk kepada kedaulatan negaranya sebagai suatu kekusaan tertinggi baik keluar maupun ke dalam.

Nasionalisme atau kebangsaan dalam pengertian politik inilah yang kemudian merupakan pokok pembahasan tentang nasionalisme (Badri Yatim,1999:57-58).

Nasionalisme merupakan cara pandang atau perspektif yang menyatakan komunitas orang yang tergabung dan terikat solidaritas bersama dalam wilayah politis tertentu yang memiliki otoritas politik yang otonom, wawasan kebangsaan hanya merupakan cara pandang atau perspektif yang bernuansa kebangsaan.

Berbeda dengan wawasan kebangsaan, nasionalisme merupakan paham ideologis kebangsaan, sehingga ia merupakan landasan dan sumber inspirasi bagi seluruh aktifitas kebangsaan.

Sehingga nasionalisme merupakan ekspresi identitas yang didasarkan pada asumsi-asumsi bersama atas kebutuhan komunitas masyarakat untuk menjadi bangsa dan membentuk sebuah Negara.

Sedangkan nasionalisme yang dibangun atas dasar etnis, bahasa, agama, wilayah dan identitas identitas lainnya yang menjadi kekhususan suatu bangsa adalah bentuk awal dan sederhana dari bentuk nasionalisme yang lebih luas. (Nafi’a, 2008: 138).

Dalam konsep nasionalisme bangsa yang dimaksud dalam hal ini adalah bangsa Indonesia. Jadi, maksud berwawasan kebangsaan adalah suatu pandangan yang mencerminkan sikap dan kepribadian bangsa Indonesia yang memiliki rasa cinta tanah air, menjunjung tinggi rasa kesatuan dan persatuan, memiliki rasa kebersamaan sebagai bangsa untuk membangun bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik, di tengah persaingan dunia globalistik, tanpa harus kehilangan akar budaya yang telah kita miliki (Asghar  Ali, 2000: 59).

Dalam konteks Pendidikan Nasional berwawasan kebangsaan ditegaskan secara konsepsional bahwa pendidikan berwawasan kebangsaan mencakup ciri-ciri dan pengertian sebagai berikut:

Pertama, Upaya sistematis dan kontinu yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan untuk menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab dalam peranannya pada saat sekarang dan masa yang akan datang;

Kedua, Upaya pengembangan, peningkatan, dan pemeliharaan pemahaman, sikap dan tingkah laku siswa yang menonjolkan persaudaraan, penghargaan positif, cinta damai, demokrasi dan keterbukaan yang wajar dalam berinteraksi sosial dengan sesama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia atau dengan sesama warga dunia;

Ketiga, Keseluruhan upaya pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab melalui upaya bimbingan, pengajaran, pembiasaan, keteladanan, dan latihan sehingga dapat menjalankan peranannya pada saat sekarang dan masa yang akan datang.

Selanjutnya pendidikan berwawasan kebangsaan bertujuan untuk :

1) Meningkatkan pengertian, pemahaman, dan persepsi yang tepat tentang persatuan dan kesatuan antar sesama warga NKRI;

2) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai penerus Bangsa Indonesia.

3) Mengembangkan kepekaan sosial, solidaritas, toleransi, dan saling mengenal serta saling menolong antar sesama warga NKRI walaupun berbeda latar belakang

4) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam mengelola konflik antar-pribadi dan antar kelompok.

Berbagai dimensi nasionalisme dalam konteks pendidikan Islam tertuang Undang-Undang Sisdiknas bahwa, tujuan pendidikan Nasional mencerminkan berbagai sinergitas dimensi yang sangat selaras nilai-nilai Islam.

Dimensi transendental atau ulluhiyah dalam regulasi tersebut tercermin dalam kalimat beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dimensi moralitas tercermin dalam  kalimat berbudi pekerti luhur, dimensi profesionalitas tercermin dalam kalimat memiliki pengetahuan dan ketrampilan sehat jasmani dan rohani, dimensi individual tercermin dalam kalimat berkeripadian yang mantap dan mandiri serta dimensi sosial tercermin dalam kalimat memiliki rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sosok manusia ideal yang diharapkan oleh tujuan pendidikan Nasional tersebut, adalah merupakan implikasi dari pelaksanaan pendidikan dalam konteks Islam. Dimana tujuan pendidikan dalam konteks Islam yakni manusia shaleh baik secara individu maupun sosial.

Secara individual sikap mental dan perilaku pribadinya tercermin dalam kejujuran, berani membela kebenaran, teguh dalam janji, suka meolong, menghargai orang sesama, kerja keras.

Sedangkan keshalehan sosial tercermin dalam budaya dan tata sosial antara lain demokratis, toleransi, transparan, adil dan sebagainya. Keshalehan yang diharapkan dari pendidikan Islam adalah keshalehan yang seimbang antara individual dengan sosial ( Mas’ud, 1996:1).

Sebagai dasar religious relevansi tujuan pendidikan Islam dalam tujuan pendidikan Nasional dirinci sebagai berikut:

a) manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa ditemukan dalilnya pada QS3:102, 18:13.,

b) Manuisa yang berbudipekerti luhur pada QS 68:4 dan sebuah Hadits Nabi yang artinya Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur.,

c) memiliki pengetahuan dan ketrampilan terdapat pada QS 19:12, 58:11, dan 39:9.,

d) Sehat jasmani dan rohanai terdapat pada QS 2:22, serta Hadits Nabi yang menegaskan bahwa orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.,

e) memiliki kepribadian yang mantap terdapat pada QS 3:110., dan

f) mempunyai rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan terdapat QS, 59:7, 11:61.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa nasionalisme dalam konteks pendidikan Islam saling terintegrasi secara sistematik. Pendidikan Nasional terutama aspek tujuan adalah ruh dari tujuan pendidikan Islam. Oleh karena itu tujuan pendidikan Nasional merupakan esensi dari tujuan pendidikan Islam.

Prof. Sunhaji, M.Ag.

Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

 

 

Referensi

Asghar  Ali  Enginer, 2000. Devolusi Negara Islam, terj. Imam Muttaqin (Yogyakarta: Pustaka  Pelajar.

Nafi’a Ilman, 2008.Wawasan Kebangsaan NU dan Aktualisasinya setelah Kemerdekaan. Jakarta: SPs UIN Syarif Hidayatullah.

Badri Yatim. 1999.  Soekarno, Islam dan Nasionalisme, Jakarta: Logos.

Nasution, Khoiruddin. 2012.Pengantar Studi Islam, Yogyakarta:

Academia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.