Kajian Keislaman

Spirit Tahun Baru Hijriah

Spirit Tahun Baru Hijriah

Peristiwa pergantian tahun adalah siklus kehidupan. Pergantian tahun merupakan penanda penambahan usia seseorang.

Penambahan jumlah usia bagi kita manusia secara matematis hakikatnya adalah pengurangan kesempatan hidup yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT kepada setiap manusia. Dengan memaknai pergantian tahun seperti ini akan mengantarkan kita pada kesadaran bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara dan ada batasnya.

Seringkali pandangan manusia tertipu oleh perputaran waktu ditandai dengan pergantian hari, bulan atau tahun. Oleh karena itu konsep waktu yang kita pahami seakan bergerak memutar terus menerus.

Padahal, secara substantif waktu bergerak secara linear dan progresif. Setiap waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali terulang dalam perjalanan hidup manusia.

Dalam al-Qur’an banyak sekali disinggung mengenai arti penting dari waktu. Kemampuan seseorang mengelola dan menggunakan waktu adalah kunci kesuksesan hidup seseorang.

Dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 Allah SWT mennyatakan :

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan lihatlah setiap jiwa apa-apa yang telah dilakukan pada waktu kemarin untuk waktu yang akan datang. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan

 Ayat ini menyiratkan pesan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola waktu merupakan salah satu indikator ketaqwaan seseorang. Dari ayat ini juga memberikan informasi tentang pembagian waktu itu ada tiga yaitu waktu lampau, sekarang dan waktu yang akan datang.

Waktu lampau berfungsi sebagai bahan evaluasi atas pencapaian prestasi (amal shalih) atau sebaliknya kegagalan dalam mencapai rencana / program yang sudah dicanangkan sebelumnya. Waktu sekarang merupakan waktu seseorang melakukan muhasabah / evaluasi dan waktu seeorang untuk melakukan aktifitas dari hasil evaluasi terhadap pencapaian waktu lampu.

Dengan kata lain waktu sekarang adalah waktu untuk berbuat dan  berprestasi. Adapun yang akan datang adalah waktu seseorang untuk merencanakan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diharapkan baik target jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Kesadaran seoarang akan pentingnya  waktu  akan mengantarkan seseorang memiliki kesadaran bahwa umur atau kesempatan hidup adalah amanat Allah SWT yang harus digunakan sebagaimana yang Allah SWT telah gariskan sebagai manifestasi rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Syukur adalah menggunakan nikmat / pemberian Allah sesuai dengan perintah Allah. Mensyukuri nikmat umur adalah dengan cara menggunakan waktu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dalam sebuah ungkapan para ulama disebutkan “ Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia menjadi pribadi yang beruntung, jika hari ini dengan hari kemarin sama saja maka ia telah merugi dan jika hari ini lebih jelek daripada hari kemarin maka ia telah rusak”

Dalam ungkapan lain juga sering dikatakan bahwa jika kalian masuk waktu pagi jangan engkau tunggu waktu sore dan jika engkau masuk waktu sore jangan engkau tunggu waktu pagi. Spirit dari ungkapan ini adalah kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan tidak boleh menunda suatu pekerjaan.

Jika pekerjaan bisa dilakukan waktu pagi maka jangan ditunda pengerjaannya waktu sore dan begitu sebaliknya.

Setiap manusia yang hidup pasti berada dalam lingkaran waktu kehidupan. Tidak seorang manusiapun yang mengetahui berapa umurnya dan kapan ia akan mati.

Hidup dan mati adalah rahasia ilahi. Jika kematian adalah sebuah kepastian, maka kematian harus dihadapi. Menghindari kematian adalah pebuatan sia-sia karena konsekwensi dari kehidupan adalah kematian.

Setiap kita wajib mempersiapkan kematian dengan memperbanyak bekal berupa amal salih. Oleh karena selagi kita masih diberi nikmat umur / kesempatan hidup maka berlomba-lombalah untuk meraih kebaikan / amal salih sebagai investasi akhirat untuk bekal menghadap Allah SWT.

Dalam lintasan sejarah, penghitungan tahun baru atau penanggalan Islam dimulai pada masa pemerintahan khalifah kedua yaitu khalifah Umar ibn Khatthab. Ketika para sahabat bermusyawarah untuk merumskan penanggalan islam, maka yang muncul adalah persoalan perbedaan pandangan di kalangan sahabat mengenai dari mana penghitingan penanggalan Islam itu dimulai.

Paling tidak ada tiga pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa penghitungan Tahun baru Islam dimulai dari hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pendapat kedua menyatakan bahwa penghitungan Tahun baru Islam dimulai dari hari wafatnya Nabi Muhammad SAW Pendapat ketiga menyatakan bahwa penghitungan Tahun baru Islam dimulai dari hari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Pendapat pertama dan kedua ditolak dengan alasan bahwa ketika Nabi Muhammad lahir beliau belum bisa apa-apa dan belum diangkat sebagai Nabi dan Rasul.  Sedangkan jika hari kematian Nabi dijadikan sebagai tonggak awal penghitungan tahun Islam, maka peristiwa wafatnya Nabi menandai selesainya perjuangan Nabi dan terhentinya al-Qur’an dan aas-Sunnah.

Setelah para sahabat  bermusyawarah lebih intens, maka diputuskan bahwa tonggak awal pegnhitungan tahun kalender Islam dihitung dari peristiwa hijrahnya Nabi. Pemilihan peristiwa hijrah sebagai tonggak awal penanggalan Islam didasarkan pada bahwa peristiwa hijrah merupakan titik  awal kebangkitan dan kejayaan Islam.

Peristiwa hijrah juga menandai upaya kerja keras / etos kerja untuk membangun peradaban islam.

Semangat tahun baru hijriyah adalah semangat untuk berkarya, mengabdi dan kerja keras untuk mencari ridha Allah SWT sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi beserta sahabat yang hijrah meninggalkan tanah air tercinta Makkah menuju Madinah untuk sebuah cita-cita besar yaitu mengembangkan kejayaan Islam.

Oleh karena itu, memasuki tahun baru hijriyah 1443 H mari kita melakukan muhasabah (instropeksi) secara menyeluruh lalu membuat perencanaan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

Dr. H. Ridwan, M.Ag. Ketua PC Lazisnu Banyumas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.